Banyak orang berpikir bahwa setelah membuat website, langkah berikutnya cukup melakukan SEO dan menunggu pengunjung datang.
Daftar Isi
TogglePadahal, setiap jenis website membutuhkan strategi marketing yang berbeda.
Landing page, company profile, toko online, portal berita, hingga website jasa tidak bisa dipasarkan dengan cara yang sama. Karakter pengunjung, tujuan website, dan sumber traffic-nya berbeda.
Kalau strategi marketing-nya tidak sesuai dengan jenis website, website bisa saja terlihat bagus tetapi tetap sepi pengunjung.
Berikut cara memasarkan website berdasarkan jenisnya.
1. Landing Page: Jangan Terlalu Mengandalkan SEO Organik
Landing page biasanya dibuat untuk satu tujuan yang spesifik.
Misalnya:
- Menjual satu produk
- Menawarkan satu jasa
- Mengumpulkan leads
- Mengajak orang mendaftar
- Mempromosikan sebuah event
- Menawarkan promo tertentu
Karena biasanya hanya memiliki satu halaman utama dengan konten yang relatif terbatas, jangan terlalu berharap traffic utama datang dari SEO organik.
Bukan berarti landing page tidak bisa muncul di Google.
Masalahnya, kalau website Anda hanya terdiri dari satu landing page, jumlah keyword yang bisa ditargetkan juga terbatas. Anda tidak memiliki puluhan atau ratusan halaman konten yang bisa menangkap berbagai pencarian pengguna.
Lalu bagaimana mendatangkan pengunjung?
Untuk landing page, strategi yang lebih realistis adalah mendatangkan traffic dari luar.
Misalnya:
1. Iklan berbayar
Anda bisa menggunakan:
- Meta Ads
- Google Ads
- TikTok Ads
- dan platform iklan lainnya
Traffic dari iklan kemudian diarahkan langsung ke landing page.
2. Konten media sosial
Buat konten di Instagram, Facebook, TikTok, YouTube Shorts, atau platform lainnya.
Konten tersebut kemudian memiliki CTA seperti:
“Cek detailnya di website.”
atau
“Klik link di bio untuk mendapatkan penawarannya.”
Dengan cara ini, media sosial menjadi sumber traffic dan landing page menjadi tempat konversinya.
Jadi, jangan berharap landing page bekerja seperti portal konten.
Landing page lebih cocok diposisikan sebagai mesin konversi, sementara traffic-nya didatangkan melalui iklan, media sosial, database pelanggan, WhatsApp, email marketing, atau channel lainnya.
2. Company Profile: SEO Bisa Digabung dengan Branding
Berbeda dengan landing page, company profile biasanya memiliki lebih banyak halaman.
Misalnya:
- Beranda
- Tentang Kami
- Layanan
- Portofolio
- Produk
- Blog
- Kontak
Karena memiliki struktur halaman yang lebih banyak, peluang untuk mendapatkan traffic dari Google juga lebih besar.
Tetapi company profile juga tidak seharusnya hanya mengandalkan SEO.
Tujuan utama company profile biasanya bukan sekadar mendapatkan traffic, tetapi membangun kepercayaan.
Misalnya ketika calon pelanggan menemukan bisnis Anda dari Instagram, WhatsApp, marketplace, Google Maps, atau rekomendasi teman, mereka mungkin akan mencari nama perusahaan Anda di Google.
Kemudian mereka menemukan website Anda.
Di sinilah website berfungsi sebagai digital storefront yang membuat bisnis terlihat lebih profesional dan terpercaya.
Strategi marketing yang cocok
Untuk company profile, Anda bisa menggabungkan:
- SEO lokal
- Google Business Profile
- Konten media sosial
- Google Ads
- Meta Ads
- Artikel SEO
- Backlink dan publikasi
- Portofolio proyek
- Testimoni pelanggan
- Video yang mengarahkan pengunjung ke website
Misalnya Anda memiliki perusahaan jasa pembuatan website.
Jangan hanya membuat halaman:
“Jasa Pembuatan Website”
Tetapi buat juga konten yang menjawab pertanyaan calon pelanggan:
- Berapa biaya membuat website?
- Apa perbedaan landing page dan company profile?
- Berapa lama membuat website?
- Mengapa bisnis membutuhkan website?
- Apa yang harus disiapkan sebelum membuat website?
Konten tersebut bisa menjadi pintu masuk dari Google.
3. Toko Online: Jangan Hanya Mengandalkan SEO
Toko online sedikit berbeda lagi.
Secara teori, toko online punya peluang SEO yang lebih besar karena memiliki banyak halaman produk.
Misalnya Anda memiliki 500 produk.
Setiap produk berpotensi menjadi halaman yang ditemukan melalui Google.
Namun, SEO saja tetap bukan strategi yang ideal untuk toko online.
Karena calon pembeli bisa datang dari banyak channel.
Strategi yang bisa digunakan antara lain:
- SEO produk
- Google Shopping
- Google Ads
- Meta Ads
- TikTok Ads
- Konten Instagram
- TikTok
- YouTube Shorts
- Influencer/KOL
- WhatsApp Marketing
- Email marketing
- Retargeting
Yang menarik, toko online bisa menggunakan satu channel untuk mendatangkan traffic dan channel lain untuk melakukan remarketing.
Contohnya:
Seseorang melihat video produk Anda di Instagram.
Kemudian dia mengunjungi website.
Belum membeli.
Beberapa hari kemudian, orang tersebut melihat iklan produk yang sama lagi.
Ini adalah salah satu alasan mengapa toko online sebaiknya tidak hanya memikirkan SEO, tetapi juga membangun ekosistem marketing.
4. Website Jasa: Konten Adalah Senjata Utama
Website jasa memiliki karakter yang berbeda.
Orang biasanya tidak membeli jasa secara impulsif seperti membeli barang murah.
Mereka akan mencari informasi terlebih dahulu.
Misalnya seseorang membutuhkan jasa pembuatan website.
Dia mungkin mencari:
jasa pembuatan website murah
harga website company profile
jasa pembuatan website toko online
biaya membuat website
website untuk UMKM
Artinya, website jasa memiliki peluang besar menggunakan content marketing + SEO.
Buat artikel yang menjawab masalah calon pelanggan.
Setiap artikel menjadi pintu masuk baru ke website.
Kemudian arahkan pembaca menuju halaman layanan.
Contohnya:
Artikel:
“Berapa Biaya Membuat Website untuk UMKM?”
↓
CTA:
“Lihat Paket Website untuk UMKM”
↓
Halaman layanan
↓
WhatsApp / Form Order
Di sinilah SEO tidak hanya digunakan untuk mendapatkan traffic, tetapi juga untuk menghasilkan calon pelanggan.
5. Portal Berita atau Website Konten: SEO dan Distribusi Harus Berjalan Bersamaan
Kalau website Anda adalah portal berita, blog, media niche, atau website yang memang mengandalkan konten, situasinya berbeda.
Website jenis ini memang sangat cocok mengembangkan SEO.
Karena semakin banyak artikel berkualitas yang dibuat, semakin banyak pula peluang mendapatkan traffic dari mesin pencari.
Tetapi jangan berhenti di SEO.
Konten yang sama bisa didistribusikan kembali melalui:
- TikTok
- YouTube
- Newsletter
- WhatsApp Channel
Misalnya satu artikel:
“10 Tips Memilih Hosting untuk Website”
Bisa dikembangkan menjadi:
- Artikel SEO di website
- Carousel Instagram
- Video TikTok
- YouTube Shorts
- Infografis Pinterest
- Newsletter
Satu konten bisa menjadi banyak sumber traffic.
6. Website Membership atau SaaS: Jangan Hanya Mengejar Pengunjung
Website SaaS, aplikasi online, atau membership juga memiliki strategi yang berbeda.
Tujuan utamanya bukan sekadar mendapatkan pageview.
Yang lebih penting adalah:
Visitor → Signup → Aktivasi → Penggunaan → Upgrade
Karena itu, strategi marketing-nya harus fokus pada acquisition sekaligus conversion.
Beberapa channel yang bisa digunakan:
- SEO
- Content marketing
- Google Ads
- Meta Ads
- YouTube
- Affiliate
- Referral
- Email marketing
- Free trial
- Freemium
- Webinar
- Komunitas
Misalnya Anda memiliki aplikasi invoice online.
Daripada hanya membuat artikel:
“Apa Itu Invoice?”
Anda juga bisa membuat:
“Template Invoice Gratis”
dan memberikan template tersebut secara gratis dengan CTA:
“Ingin membuat invoice otomatis? Coba aplikasi kami.”
Dengan begitu, konten bukan hanya mendatangkan traffic, tetapi juga menjadi lead generation mechanism.
Jadi, Website Mana yang Cocok untuk SEO?
Jawabannya bukan “semua website harus SEO”.
SEO memang bisa bermanfaat untuk hampir semua jenis website, tetapi porsinya berbeda-beda.
| Jenis Website | Strategi Utama |
|---|---|
| Landing Page | Ads + Social Media + CTA |
| Company Profile | SEO + Branding + Social Media |
| Toko Online | SEO + Ads + Social Commerce |
| Website Jasa | SEO + Content Marketing + Ads |
| Portal/Blog | SEO + Content Distribution |
| SaaS/Membership | SEO + Ads + Content + Referral |
| Website Event | Ads + Social Media + Community |
| Personal Brand | Social Media + Video + SEO |
Yang perlu dipahami adalah:
Website bukan sumber traffic. Website adalah tempat traffic tersebut dikonversi.
Traffic bisa berasal dari Google, Instagram, TikTok, Facebook, YouTube, iklan, WhatsApp, email, marketplace, referral, dan berbagai channel lainnya.
Jadi sebelum bertanya:
“Bagaimana supaya website saya ramai?”
lebih baik tanyakan terlebih dahulu:
“Dari mana calon pelanggan saya akan datang?”
Setelah itu, barulah website dirancang untuk menangkap dan mengonversi traffic tersebut.
Kesimpulan
Memiliki website saja tidak otomatis membuat bisnis mendapatkan pengunjung.
Dan tidak semua website harus dipasarkan dengan cara yang sama.
Landing page lebih cocok menjadi halaman konversi yang didukung iklan dan social media.
Company profile membutuhkan kombinasi branding, SEO, dan distribusi konten.
Toko online perlu menggabungkan SEO, advertising, social commerce, dan remarketing.
Website jasa bisa sangat kuat dengan content marketing dan SEO.
Sedangkan portal konten membutuhkan produksi dan distribusi konten secara konsisten.
Jadi, jangan hanya bertanya:
“Apakah website saya sudah SEO?”
Tetapi tanyakan:
“Strategi traffic apa yang paling cocok untuk jenis website saya?”
Karena website yang bagus bukan hanya website yang ditemukan di Google.
Website yang bagus adalah website yang mampu mendatangkan traffic yang tepat dan mengubahnya menjadi pelanggan.
Kalau Anda sedang membuat website untuk bisnis, pastikan juga hosting yang digunakan mampu mendukung performa website tersebut. Karena ketika traffic mulai datang, website yang lambat justru bisa membuat calon pelanggan pergi sebelum melakukan konversi.
Gapurahoster — Hosting untuk website bisnis dan kebutuhan online Anda.



